KARYA ILMIAH .
Haiiii readers !!! ada yang di beri tugas karya ilmiah sama gurunya di sekolah..?? kalo ada nii aku dah siapin contoh karya ilmiahnya yuk di liat!! XD
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Penyakit
rabies atau anjing gila sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat karena
penyakit ini sangat berbahaya. Apalagi akhir – akhir ini korban penyakit rabies
semakin hari semakin meningkat. Penyakit anjing gila merupakan suatu penyakit
menular yang akut , menyerang susunan saraf pusat, disebabkan oleh virus rabies
jenis Rhabdho virus yang dapat menyerang semua hewan berdarah panas dan
manusia. Penyakit rabies merupakan penyakit Zoonosis ( penyakit yang dapat
menular kemanusia ) yang sangat berbahaya dan ditakuti serta menggangu
ketentraman hidup manusia, karena apabila sekali gejala klinis penyakit rabies
timbul maka biasanya akan diakhiri dengan kematian. Masyarakat sudah sebagian
besar mengetahui penyakit rabies tetapi mereka belum sadar akan bahaya rabies.
Dimana kalau ada masyarakat yang digigit anjing , biasanya anjing itu langsung
dibunuh sehingga menghambat proses pengobatan terhadap korbannya. Dan masih ada
yang berobat ke dukun untuk penyembuhan rabies dan baru datang ke rumah sakit
apabila kondisi korban sudah parah.
Maka dari itu, kelompok
kami tertarik untuk mengangkat judul ” PENYAKIT RABIES” sebagai judul laporan
ilmiah ini.
Disini
akan diuraikan tentang penyebaran penyakit rabies di indonesia, cara penularan
penyakit rabies, tahapan dan gejala penyakit rabies, tanda-tanda penyakit
rabies pada manusia dan hewan, langkah yang harus dilakukan manusia apabila
digigit anjing, pencegahan, pengobatan dan penanganan rabies .
1.2.
Rumusan Masalah
1.2.1.
Bagaimana persebaran penyakait rabies di Indonesia.
1.2.2.
Bagaimana cara penularan penyakit rabies.
1.2.3.
Bagaimana tahapan dan gejala rabies.
1.2.4.
Bagaimanakah tanda-tanda rabies pada manusia dan hewan.
1.2.5.
Langkah apakah yang harus dilakukan apabila digigit anjing dan
tindakan
terhadap hewan yang menggigit.
1.2.6.
Bagaimanakah cara pencegahan, pengobatan dan penanganan rabies.
1.3.
Tujuan
1.3.1.
Untuk mengetahui persebaran penyakit rabies di Indonesia.
1.3.2.
Untuk mengetahui bagaimana cara penularan penyakit rabies.
1.3.3.
Untuk mengetahui bagaimana tahapan dan gejala penyakit rabies.
1.3.4.
Untuk mengetahui tanda-tanda rabies pada manusia dan hewan.
1.3.5.
Untuk mengetahui langkah apa yang harus dilakukan apabila digigit
anjing
dan tindakan yang dilakukan terhadap hewan yang menggit.
1.3.6.
Untuk mengetahui bagaimana cara pencegahan, pengobatan, dan
penanganan
rabies.
1.4.
Manfaat penelitian
1.4.1.
Dapat bermanfaat bagi masyarakat untuk mengetahui lebih dini atau awal tentang
penyakit rabies, sehingga kita bsia melakukan pencegahan dan ikut berperan
aktif dalam membebaskan Bali dari penyakit rabies.
1.5.
Metode penggunaan
1.5.1.
Mencari informasi dalam buku-buku.
1.5.2.
Langsung terhadap narasumber.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Penyebaran Rabies Di Indonesia
Daerah
di Indonesia yang saat ini masih tertular rabies sebanyak tujuh belas Propinsi
meliputi Pulau Bali, Sumatra ( Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu,
dan Lampung ), Pulau Sulawesi (Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah,
Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara ), Pulau Kalimantan ( Kalimantan
Selatan dan Kalimantann Timur ), Pulau Flores dan kasus yang terakhir terjadi
di Propinsi Maluku ( Kota Ambon dan Pulau Seram ).
Penyakit
ini disebabkan oleh virus rabies yang terdapat pada air liur hewan yang
terinfeksi. Hewan ini menularkan infeksi kepada hewan lainnya atau manusia
melalui gigitan dan kadang melalui jilatan. Virus akan masuk melalui
saraf-saraf menuju ke medulla spinalis dan otak, yang merupakan tempat mereka
berkembangbiak. Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui saraf ke kelenjar
liur dan masuk ke dalam air liur.
2.2
Cara Penularan Penyakit Rabies
2.2.1
Masa inkubasi
Masa
inkubasi adalah waktu antara penggigitan sampai timbulnya gejala penyakit.
Gejala-gejala rabies pada hewan timbul pada hewan kurang lebih 2 minggu.
Sedangkan pada manusia 2-3 minggu sampai 1 tahun. Masa tunas ini dapat lebih
cepat atau lebih lama tergantung pada :
Dalam dan parahnya luka bekas gigitan
Lokasi luka gigitan
Banyaknya saraf di sekitar luka gigitan
Pathogenetis dan jumlah virus yang masukmelalui gigitan
Jumlah luka gigitan
Hewan
yang rentan dengan rabies yaitu semua hewan berdarah panas. Rabies secara alami
terdapat pada anjing, kucing, kera, kelelawar, dan karnivora liar.
2.3
Tahapan penyakit rabies
Perjalanan
penyakit rabies pada anjing dan kucing dibagi dalan tiga fase ( tahap) :
Fase Prodormal yaitu hewan mencari tempat dingin dan menyendiri, tetapi dapat
menjadi lebih agresifdan nerves, pupil mata meluas dan sikap tubuh kaku
(tegang). Fase ini berlangsung selama 1-3 hari.
Fase Eksitasi yaitu hewan menjadi ganas dan menyerang siapa saja yang ada di
sekitarnya dan memakan barang yang aneh-aneh. Selanjutnya mata menjadi keruh
dan selalu terbuka dan tubuh gemetaran, selanjutnya masuk ke fase paralisa.
Fase Paralisa yaitu hewan mengalami kelumpuhan pada semua bagian tubuh dan
berakhir dengan kematian.
2.4
Diagnosa penyakit rabies
Jika
seseorang digigit hewan maka hewan yang menggigit harus diawasi. Immunofluoresensi
( tes antibodifluoresensi ) yang dilakukan terhadap hewan tersebut menderita
rabies. Biopsi kulit, pemeriksaan kulit leher dengan cara diperiksa dengan
mikroskop, biasanya dapat menunjukan adanya virus.
2.5
Gejala penyakit dikenal dalam tiga bentuk :
a.
Bentuk ganas ( Furious rabies ) masa eksitasi panjang, kebanyakan akan mati
dalam 2-5 hari setelah tanda-tanda terlihat. Tanda-tanda yang sering terlihat :
Hewan menjadi penakut atau menjadi galak
Senang bersembunyi di tempat-tempat yang dingin, gelap dan menyendiri tetapi
dapat menjadi agresif.
Tidak menuruti perintah majikannya.
Nafsu makan hilang dan air liur meleleh tak terkendali.
Hewan akan menyerang benda yang ada di sekitarnya dan memakan barang,
benda-banda asing seperti kayu, batu dan lain sebagainya.
Menyerang dan menggigit barang yang bergerak apa saja yang dijumpai.
Kejang-kejang disusul dengan kelumpuhan.
Ekor diantara dua paha.
b.
Bentuk diam ( Dumb Rabies ) masa esitasi pendek, paralisa cepat terjadi. T
Tanda-tanda
yang sering terlihat :
Bersembunyi di tempat yang gelap dan sejuk.
Kejang-kejang berlangsung sangat singkat, bahkan sering tidak terlihat.
Lumpuh, tidak dapat menelan, mulut terbuka.
Air liur keluar terus menerusmati
c.
Bentuk Asystomatis ( tidak bersifat ). Tanda-tanda yang sering terlihat :
Hewan tidal menunjukan gejala sakit
Hewan tiba-tiba mati.
2.6
Tanda – tanda penyakit anjing gila pada manusia :
-
Pada manusia yang penting diperhatikan adalah riwayat gigitan dari hewan
seperti anjing, kucing, dan kera
-
Dilanjutkan gejala-gejala nafsu makan hilang, sakit kepala, tidak bisa tidur,
demam tinggi, mual/muntah-muntah.
-
Pupil mata membesar, bicara tidak karuan, selalu ingin bergerak dan nampak
kesakitan.
-
Adanya rasa panas (nyeri) pada tempat gigitan dan menjadi gugup.
-
Rasa takut yang berlebihan pada air, peka terhadap suara keras, cahaya dan
angin/udara.
-
Kejang-kejang lalu mengalami kelumpuhan dan akhirnya meninggal dunia. Biasanya
penderita meninggal 4-6 hari setelah gejala-gejala timbul.
2.7
Penanganan, Pengobatan, Dan Pencegahan Rabies
2.7.1
Penanganan Terhadap Rabies
a.
Apabila seseorang digigit hewan yang tersangka rabies, maka tindakan
yang
harus dilakukan adalah :
o
Mencuci luka gihitan dengan sabun atau dengan deterjen selama 5-10 menit di
bawah air mengalir/ diguyur. Kemudian luka diberi alkohol 70% atau yodium
tincture. Setelah itu pergi secepatnya ke Puskesmas atau Dokter yang terdekat
untuk mendapatkan pengobatan sementara sambil menunggu hasil dari rumah
observasi hewan.
o
Laporkan kepada petugas Dinas Peternakan setempat tentang khasus penggigitan
tersebut.
o
Hewan yang menggigit dikirim ke rumah observasi dan diperiksa kesehatannya
selama 10-14 hari.
o
Bila hewan yang memggigit tidak diketahui atau tidak dapat ditemukan , maka
orang yang tergigit harus dibawa ke rumah sakit khusus infeksi.
b.
Tindakan terhadap anjing, kucing, atau kera yang dipelihara
Anjing
, kucing, dan kera yang menggigit manusia atau hewan lainnya harus dicurigai
menderita rabies. Terhadap hewan tersebut harus diambil tindakan sebagai
berikut :
-
Bila hewan tersebut adalah hewan peliharaan atau ada pemiliknya, maka hewan
hewan tersebut harus ditangkap dan diserahkan ke Dinas Peternakan setempat
untuk diobservasi selama 14 hari. Bila hasil observasi negatif rabies maka
hewan tersebut harus mendapat vaksinasi rabies sebelum diserahkan kembali
kepada pemiliknya.
-
Bila hewan yang menggigit adalah hewan liar (tidak ada pemiliknya) maka hewan
tersebut harus diusahakan ditangkap hidup dan diserahkan kepada Dinas
Peternakan setempat untuk diobservasi dan setelah masa observasi selesai hewan
tersebut dapat dimusnahkan atau dipelihara oleh orang yang berkenan, setelah
terlebih dahulu diberi vaksinasi rabies.
-
Bila hewan yang menggigit sulit ditangkap dan terpaksa harus dibunuh, maka
kepala hewan tersebut harus diambil dan segera diserahkan ke Dinas Peternakan
setempat untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.
2.7.2
Pengobatan Pada Penyakit Rabies
Pada
hewan tidak terdapat pengobatan yang efektif sehingga apabila hasil diagnosa
positif rabies, diindikasikan mati/euthanasia. Sedangkan pada manusia dapat
dilakukan pengobatan pasteur, pemberian VAR dan SAR sesuai dengan prosedur
standar operasi (SOP). Jika segera dilakukan tindakan pencegahan yang tepat,
maka seseorang yang digigit hewan yang menderita rabies kemungkinan tidak akan
menderita rabies. Orang digigit kelinci dan hewan pengerat (termasuk tikus )
tidak memerlukan pengobatan lebih lanjut karena hewan-hewan tersebut jarang
terinfeksi rabies. Tetapi bila digigit binatang buas (rubah dan kelelawar)
diperlukan pengobatan lebih lanjut karena hewan-hewan tersebut mungkin saja
terinfeksi rabies.
Tindakan
pencegahan yang paling penting adalah penanganan luka gigitan sesegera mungkin.
Daerah yang digigit dibersihkan dengan sabu ,tusukan yang dalam disemprot
dengan air sabun. Jika luka telah dibersihkan, kepada penderita yang belum
pernah mendapatkan imunisasi dengan vaksin rabies diberikan suntikan
immunoglobulin rabies, dimana separuh dari dosisnya disuntikan di tempat
gigitan. Jika belum pernah mendapat imunisasi, maka suntikan vaksin rabies
diberikan pada saat digigit hewan rabies dan pada hari ke 3,7,14 dan 28. Nyeri
dan pembengkakan di tempat suntikan biasanya bersifat ringan. Jarang terjadi
reaksi alergi yang serius, kurang dari 1% yang mengalami demam setelah
menjalani vaksinasi. Jika penderita pernah mendapatkan vaksinasi, maka risiko
menderita rabies akan berkurang, tetapi luka gigitan harus tetap dibersihkan
dan diberi 2 dosis vaksin ( pada hari 0 dan 2 ). Sebelum ditemukannya
pengobatan, kematian biasanya terjadi dalam 3-10 hari. Kebanyakan penderita
meninggal karena sumbatan jalan nafas (asfiksia), kejang, kelelahan atau
kelumpuhan total. Meskipun kematian karena rabies diduga tidak dapat dihindari,
tetapi beberapa orang penderita selamat. Mereka dipindahkan ke ruang perawatan
intensif untuk terhadap gejala-gejala pada paru-paru, jantung dan otak.
Pemberian vakasin maupun immunoglobulin rabies tampaknya efektif jika suatu
saat penderita menunjukan gejala-gejala rabies.
2.7.3
Pencegahan Rabies
Langkah-langkah
untuk mencegah rabies bisa diambil sebelum terjangkit virus atau segera setelah
terjangkit. Sebagai contoh , vaksinasi bisa diberikan kepada orang-orang yang
berisiko tinggi terhada terjangkitnya virus, yaitu Dokter hewan.. melakukan
vaksinasi mata terhadap anjing, kucing dan kera serta menghindari hewan
peliharaan kontak dengan hewan liar.
BAB
III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Penyakit
rabies ( anjing gila ) adalah suatu penyakit menular yang akut, menyerang
susunan saraf pusat, disebabkan oleh virus jenis Rhabdho virus yang dapat
menyerang semua hewan berdarah panas ( anjing, kucing, kera, dan kelelawar )
dan manusia. Penularan penyakit rabies pada manusia dan hewan lain melalui
gigitan. Pada hewan tidak ada pengobatan yang efektif sehingga apabila hasil
diagnosa positif rabies, diindikasikan mati. Sedangkan pada manusia dapat
dilakukan pengobatan pasteur, pemberian VAR, dan SAR sesuai dengan prosedur
standar operasi (SOP). Seseorang yang digigit hewan penderita rabies penanganan
yang dilakukan harus secepat dan sesegera mungkin, hal ini bertujuan untuk
mengurangi efek maupun mematikan virus yang masuk ke tubuh melalui luka
gigitan. Jika ada hewan peliharaan yang digigit oleh anjing diduga rabies,
secepatnya mengurung hewan sakit dan melaporkan kepada petugas peternakan
setempat atau ke Dinas Peternakan Kabupaten.
3.2.
Saran
•
Sebaiknya kita berhati-hati dalam memelihara hewan yang rentan terhadap
penyakit rabies seperti anjing.
•
Jika terdapat tanda-tanda yang mencurigai terhadap hewan peliharaan sebaiknya
segera dibawa ke dokter hewan untuk diperiksa.
•
Sebaiknya menempatkan hewan peliharaan dalam kandang dan senantiasa
memperhatikan kebersihan kandang dan sekitarnya.
•
Sebaiknya melaksanakan vaksinasi rabies terhadap hewan secara teratur setiap
tahun ke Dokter hewan.
Hal
yang diharapkan agar kita semua terhindar dari penyakit rabies yang dapat
menyebabakan kematian.
Cukup sekian dulu yaw readers .. semoga bermanfaat :)